Sabtu, 23 November 2013

Perihal Manusia Jatuh dalam Dosa.

Manusia Jatuh dalam Dosa

Apakah Taman Firdaus itu benar-benar ada? Seandainya manusia pertama tidak jatuh ke dalam dosa, apakah wanita tidak akan mengalami sakit bersalin dan ular tidak akan merayap di bumi? Apa artinya makan buah pohon pengetahuan yang baik dan jahat?
Markus Yung, Jakarta

Pertama, kisah penciptaan dan kejatuhan manusia ke dalam dosa tidak boleh ditafsirkan sebagai laporan sejarah, tetapi harus ditafsirkan sebagai kesaksian iman dari penulis suci dalam bimbingan ilahi. Bahasa simbolis dalam kisah ini perlu ditafsirkan secara hati-hati dalam terang Perjanjian Baru dan tradisi otentik (KGK 375).(bdk. HIDUP no 31, 3 Agustus 2008 dan no 39, 25 September 2011).

Kedua, kata “Eden” secara harafiah berarti “padang belantara”. Bunyi yang sama tapi beda tekanan dari kata “Eden” berarti kenikmatan, kemakmuran.
Arti kedua inilah yang dimaksud penulis untuk mengungkapkan keindahan, kebahagiaan, dan kemakmuran taman itu. Kata itu kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Yunani (paradeisos) dan menjadi paradise (Ing), Firdaus (Ind).

Taman Eden adalah gambaran penulis suci tentang keadaan ideal yang diciptakan Allah sebelum manusia berdosa. Keadaan bahagia dan sejahtera ini hilang dan berubah secara drastis akibat dosa manusia pertama. Keadaan di Taman Firdaus (Kej 2:4-25) merupakan kebalikan dari keadaan konkrit manusia sesudah jatuh ke dalam dosa (Kej 3:4-24). Melalui kisah tentang Taman Firdaus ini, Allah mewahyukan ajaran iman bahwa keadaan manusia sekarang ini bukanlah keadaan yang dikehendaki oleh dan berasal dari Allah,
tetapi adalah akibat dari dosa manusia pertama. Keadaan yang memprihatinkan ini adalah keadaan sementara sebagai hukuman dari dosa manusia. Kejelekan dan keburukan ini tidak berasal dari Allah. Kisah Taman Firdaus hendak membangkitkan kerinduan akan keadaan manusia yang bebas dari dosa dan hidup bahagia dan sejahtera bersama Allah.

Ketiga, lukisan rinci tentang keadaan setelah manusia jatuh ke dalam dosa, bertujuan menunjukkan kerusakan-kerusakan yang terjadi karena dosa. Kerusakan itu bisa dibedakan menjadi empat bidang relasi manusia.
  1. relasi kasih dengan Allah yang menyejukkan rusak menjadi relasi yang menakutkan: “Ketika aku mendengar, bahwa Engkau ada di taman itu, aku menjadi takut...” (Kej 3:10). Kehadiran Allah menakutkan karena manusia takut akan hukuman-Nya.
  2. relasi intim dengan sesama manusia menjadi rusak, yaitu manusia tidak mau bertanggungjawab atas perbuatannya, dan melemparkan tanggung jawab atas kesalahannya kepada sesamanya (3:12-13). Relasi suami istri yang indah berubah menjadi relasi yang mendominasi dan mengobyekkan. Hal ini diungkapkan dengan kata “telanjang” (3:10.11) Kehadiran anak yang seharusnya menjadi ungkapan kebahagiaan menjadi sebab susah payah dan kesakitan (3:16).
  3. relasi dengan diri sendiri juga dirusak, artinya manusia tidak kuasa menahan dorongan-dorongan dari dalam (nafsu) meskipun akibatnya jelas menyakitkan (3:16 “engkau akan birahi kepada suamimu dan ia akan berkuasa atasmu”).
  4. relasi manusia dengan alam semesta juga dirusak: manusia harus bekerja keras mencari nafkah (3:17-19). Binatang-binatang, yang termasuk alam semesta, bermusuhan dengan manusia dan menjadi ancaman atas hidup manusia (3:15). Relasi selaras manusia menjadi rusak pada setiap bagiannya, karena dosa.

Keempat, makan buah pohon pengetahuan yang baik dan yang jahat adalah ungkapan simbolis yang berarti bahwa manusia dengan kebebasannya mau menentukan sendiri kriteria moral, lepas dari apa yang telah ditentukan oleh Allah. Dalam arti itu, manusia mengambil alih kedudukan Allah (“kamu akan menjadi seperti Allah”) sebagai penentu baik dan buruk. Inilah inti dosa yang sampai sekarang masih terus terjadi. Manusia tidak mau mengikuti kriteria baik-buruk yang ditetapkan oleh Allah, tidak mau mengikuti kehendak Allah (taat), tetapi mau mengatur dirinya sendiri lepas dari Allah. Maka dosa juga berarti bahwa manusia mau mewujudkan diri di luar Allah.

Penulis : Pastor Dr Petrus Maria Handoko CM
Sumber : http://www.hidupkatolik.com/, Jumat, 11 Oktober 2013 16:23 WIB

Kamis, 14 November 2013

Allah dalam Teori Evolusi

Allah dalam Teori Evolusi

Apakah teori evolusi diakui Gereja? Apakah Gereja masih tetap mengajarkan kisah penciptaan yang terjadi selama enam hari? Apakah iman kita bisa dipertahankan jika berhadapan dengan ilmu pengetahuan?
Lina Mariantika, Malang

  • Pertama, kisah penciptaan dan teori evolusi tidaklah bertentangan atau saling menyangkal. Gereja tetap mengajarkan kisah penciptaan dan sekaligus tak menyangkal proses historis kejadian segala sesuatu. Teori evolusi menyadarkan kita, bahwa kisah penciptaan (Kej 1-2) tidak bermaksud menyajikan proses penciptaan alam semesta, tetapi menyajikan ajaran-ajaran iman tentang manusia dan Allah. Karena itu, ungkapan penciptaan dalam enam hari tidak boleh dimengerti secara harafiah, tapi harus dimengerti sebagai gaya simbolis penulis suci menyampaikan ajarannya.

  • Kedua, ada kesatuan antara kisah penciptaan dan teori evolusi, antara iman dan akal budi. Iman tetap bisa dan harus dipertahankan ketika berhadapan dengan akal budi. Dalam ensiklik Fides et Ratio, Paus Yohanes Paulus II menjelaskan, iman dan akal budi itu bagaikan dua sayap bagi manusia untuk terbang kepada kontemplasi tentang kebenaran, kebenaran hidup manusia, dan kebenaran iman akan Allah. Dalam terang iman Katolik, iman dan ilmu tak boleh dipandang sebagai dua dunia manusia yang saling bertentangan dan tidak dapat direkonsiliasikan, tetapi keduanya merupakan pendekatan yang berbeda yang menghasilkan kebenaran masing-masing dari kenyataan yang satu dan sama.

  • Ketiga, teori evolusi yang dilahirkan ilmu pengetahuan menjelaskan proses pembentukkan alam semesta (kosmogenesis), kehidupan (biogenesis), serta manusia (antropogenesis). Teori evolusi menegaskan, segala sesuatu yang ada di dunia ini bukanlah sesuatu yang sudah jadi dan selesai, tapi sesuatu yang hidup, tumbuh dan berkembang. Teori evolusi menjawab pertanyaan “bagaimana” (how). Di lain pihak, kisah penciptaan (Kej 1) tidak bermaksud menjelaskan tentang proses ini, tapi mengajarkan tentang Allah, manusia, dan alam semesta. Ajaran iman ini adalah jawaban atas pertanyaan tentang siapa, apa, dan mengapa (who, what, why) yang tidak bisa dijawab teori evolusi. “Proyek” apa yang terkandung dalam alam semesta dan diri manusia tidak bisa dijelaskan teori evolusi, tapi menjadi jelas dalam kisah penciptaan. Dalam arti ini kisah penciptaan dan teori evolusi justru tidak bertentangan, tapi bersifat saling melengkapi.

  • Keempat, teori evolusi yang ditolak Gereja ialah teori evolusi ideologis atau materialistis, yaitu yang mengajarkan bahwa segala sesuatu (termasuk kehidupan dan manusia) itu berasal dari materia yang kekal yang di dalamnya sudah ada sebab-sebab yang mencukupi sehingga teori evolusi materialistis ini menolak ajaran tentang penciptaan dan adanya Allah. Evolusi materialistis menolak sebab apa pun yang mengatasi materia. Keseluruhan diri manusia berasal dari materia. Jiwa adalah hasil reaksi kimiawi dari materi-materi, demikian juga roh manusia. Karena itu, sifat transenden manusia disangkal. Keberadaan Allah ditolak. Teori penciptaan ditolak.

  • Kelima, Kardinal Ratzinger (pada 1986) menunjukkan kemungkinan peran Allah dalam teori evolusi. Munculnya kehidupan dan juga manusia oleh teori evolusi dipandang sebagai proses kebetulan, dan kemungkinan matematis terjadinya hampir mendekati nol, yaitu bahwa hanya terjadi satu kali. Ratzinger mengatakan bahwa hal itu bukanlah kebetulan, melainkan di sinilah tampak campur tangan Allah. Kehidupan dan manusia muncul karena memang dikehendaki oleh kebebasan dan kasih Allah. Struktur organisme yang muncul menyiratkan adanya rencana, proyek besar dan konstruksi yang tidak bisa terjadi kebetulan saja, acak dan tidak beraturan, tapi haruslah sesuatu yang sudah dipikirkan dan direncanakan secara masak. Hal ini menunjuk kepada adanya akal budi atau intelligence yang mencipta di balik peristiwa ini. Itulah Allah Sang Pencipta.

Pastor Dr Petrus Maria Handoko CM
Sumber : http://www.hidupkatolik.com/, Kamis, 17 Oktober 2013 15:34 WIB.

Minggu, 10 November 2013

Memperkenalkan : My PC Defender 2014, Dari Indonesia untuk Indonesia dan Dunia.


Today is November 10, 2013, our nation celebrated hero Indonesia, the day that we use to honor our current fighters repel invaders from Indonesia. On that day our ancestors struggled between life and death to defend the independence of Indonesia.
Hari ini tanggal 10 November 2013, kami Bangsa Indonesia merayakan hari pahlawan, hari yang kami gunakan untuk menghormati para pejuang kami saat mengusir penjajah dari Indonesia. Pada hari itu nenek moyang kami berjuang antara hidup dan mati untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia. 

We are now the proud grandson with the independence struggle of their results by creating sophisticated combat equipment "My PC Defender 2014" to free your computer from various types of malware that occupation must have been very detrimental to you.
Kini kami para cucunya dengan bangga mengisi kemerdekaan hasil perjuangan mereka dengan menciptakan peralatan tempur canggih "My PC Defender 2014" untuk membebaskan komputer anda dari penjajahan aneka jenis malware yang pasti sangat merugikan anda.

We dedicate our work to the heroes of our nation Indonesia and around the world for you.
Please join us, we freed our computers from invaders, we eradicated them up by the roots, and eventually independence belongs to the whole world !
Free download and use, visit this site for download:
http://mypcdefender.blogspot.com/
Karya kami ini kami dedikasikan untuk para pahlawan bangsa kami Indonesia dan untuk anda di seluruh dunia. Mari bergabung bersama kami, kita bebaskan komputer kita dari penjajah, kita basmi mereka sampai ke akar-akarnya, dan akhirnya kemerdekaan ini menjadi milik seluruh dunia.


Gratis download dan digunakan, kunjungi situs ini untuk download :
http://mypcdefender.blogspot.com/

Anda perlu baca juga :

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...